Alasan Masuk Akal Kenapa StartUp Tidak (terlalu) Mementingkan Profit

Beberapa orang dengan sudut pandang bisnis yang mungkin bisa dibilang “konservatif” cenderung bingung dengan pola pikir bisnis anak sekarang.

“Ini bisnis jualan apaan? darimana dapet untungnya?”

Mungkin itu yang ada di pikiran bapak bapak pebisnis konservatif (baca : jadul) yang melihat cara berbisnis anak sekarang.

Sangat berbeda dengan apa yang mereka lakukan terdahulu yaitu menghasilkan profit sebesar besarnya dari setiap produk yang terjual.

Trend ini atau mungkin bisa kita sebut sebagai Non-profit-oriented ini memang secara garis besar bertentangan dengan kaidah bisnis pada umumnya.

Alih-alih mencari keuntungan dari setiap produk yang dijual walaupun bisnisnya kecil, beberapa perusahaan startup kini justru memilih untuk besar dulu, baru memikirkan profit.

Kenapa bisa begitu ya?

Profit Replaced by Growth

Begitu kata guru bisnis saya, mengomentari trend yang terjadi saat ini.

“Skandal” ini diawali oleh sebuah eCommerce yang secara gamblang dan eksplisit melakukan penawaran publik (IPO) saat perusahaannya masih merugi.

Yes, Amazon.

Tahun 1997 saat Amazon masih menjadi sebuah perusahaan rintisan, mereka membuka penawaran publik dengan kondisi perusahaan yang masih merugi 27 ribu dollar atau sekitar 300-an juta (dengan kurs sekarang).

Tapi kok bisa banyak orang yang akhirnya berinvestasi kesana?

Growth!

Jeff Bezos, pada dokumen surat ke shareholders tahun 1997 menyampaikan bahwa :

“It’s all about long-term”

What?

So how’s my profit generated, then?

Ha ha ha

Kejeniusan Bezos untuk “menjual” amazon saat masih merugi dengan sudut pandang Growth, Value, Market Leadership Position, dan lainnya cukup menarik minat investor yang tentunya, mereka sudah tahu kalau perusahaan itu belum ada untungnya.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan (revenue) dan proses bisnis yang sudah semakin efisien, akhirnya Amazon mencetak profit pertamanya di Q4 tahun 2001.

Namun selama nyaris 4 tahun, investor diminta untuk menunggu dan menukar uang investasinya dengan laporan pertumbuhan perusahaan.

Aneh?

Jelas!

Wajar?

Untuk sekarang? ya!

Amazon sukses membuat era Profit replaced by Growth.

Menjual Model Bisnis, Bukan Produk!

Dalam satu kesempatan, mantan CEO Bukalapak, Mas Ahmad Zaky membuka sesi tanya jawab di Instagram-nya.

Ada satu hal yang menarik di sini :

Paham ya?

Analoginya begini :

Kalau saya menjadi investor, maka mungkin saya akan memberikan dana ke produsen Mie mentah dibandingkan dengan langsung ke tukang Mie Ayam.

Dari skalabilitas, saya bisa melihat kalau Mie mentah ini bisa diperbesar pabriknya dan men-supply ke puluhan, ratusan bahkan ribuan tukang mie ayam seluruh Indonesia.

Dibandingkan dengan saya invest ke tukang Mie Ayam yang menyajikan porsi makanan matang, yang mungkin target marketnya hanya pada radius tertentu.

(Ya, oke maksimal perbanyak buka cabang Mie Ayam, he he he)

Walaupun kita tahu bahwa margin untuk produk Food and Beverage (FnB) bisa lebih dari 50%, tapi saya lebih memilih invest ke produk mie mentah dengan margin 20%.

Lagi, karena saya melihat skalabilitas produsen mie yang mungkin lebih potensial diperluas ekspansinya, ke seluruh Indonesia dibandingkan dengan menjual Mie Ayam di mangkok yang mungkin hanya berdasarkan radius area tertentu.

Dari analogi di atas, mungkin Anda bisa paham kenapa banyak sekali marketplace yang berlomba memberikan promo.

Bahkan mungkin tidak hanya marketplace, melainkan juga beberapa perusahaan startup lainnya yang banyak sekali memberikan promo.

Yang mungkin dari sudut pandang pebisnis kita akan bertanya :

“Dapet untungnya darimana?”

Well, mereka tidak begitu, atau mungkin belum berorientasi pada keuntungan atau margin dari setiap produk, namun pada model bisnis.

Mereka, para pebisnis, bukan lagi menjual produk sebagai hal utama yang menghasilkan profit, melainkan model bisnis yang scaleable lah yang “dijual” oleh mereka.

Darisana mereka akan mendapatkan pendanaan segar yang tentunya bisa digunakan untuk “menyambung” operasional selama masih dalam tahap pertumbuhan atau akuisi pelanggan.

Disalahgunakan!

Mungkin Anda menilai kalau berinvestasi pada perusahaan yang masih rugi akan sangat berbahaya?!

Jawabannya, Ya, tentu saja.

Seperti 2 sisi koin, selalu ada kemungkinan perusahaan tersebut tidak berhasil, namun tidak jarang juga ada investor yang mendapatkan banyak keuntungan dari hasil invetasi ke perusahaan yang awalnya masih merugi.

Selain dari dua kemungkinan gagal dan berhasil, ada satu kemungkinan lain yang menyebalkan.

Benar, penipuan !

Sejauh ini belum ada yang lebih buruk dari pebisnis yang menjual harapan.

Skandal yang cukup terkenal dan menggemparkan Silicon Valley yaitu Theranos.

Elizabeth Holmes “menjual mimpi” yang sangat revolusioner sekali di bidang laboratorium medis.

Yaitu melakukan lebih dari 30 pemeriksaan laboratorium hanya dengan menggunakan beberapa tetes darah saja.

Iya, Anda tidak salah baca, hanya dengan beberapa tetes darah !

Nyaris tidak mungkin!

Namun Holmes memberikan sudut pandang yang menarik bahwa :

“Sesuatu yang disruptif itu memang terlihat tidak mungkin untuk dilakukan”

Benar saja, akhirnya banyak orang berinvestasi ke Theranos.

Namun kekhawatiran investor tersebut benar, Holmes akhirnya ditahan dengan tuduhan penipuan dana investor.

Bukalapak

Mungkin ini menjadi konten saya ke sekian yang membahas tentang fenomena Unicorn Teknologi yang pertama kali melantai di bursa saham, Bukalapak.

(Di podcast saya salah satunya)

Ya, topik ini memang cukup menarik.

Memancing perdebatan yang sangat tajam antara investor yang modern dengan investor yang konservatif.

Perdebatan antara investor “dewasa” yang bisa melihat pertumbuhan dengan investor konservatif yang lebih mengutamakan profit.

Beberapa dari investor konservatif akan cukup kritis bertanya mengenai :

“perusahaan belum untung kok udah IPO”

Ha ha ha

Namun tetap saja ada perusahaan yang membeli bahkan memborong saham Bukalapak tersebut dengan jumlah yang cukup tinggi.

Mengapa mereka “nekat” melakukan hal tersebut?

Mungkin terlalu eksplisit kalau kita bilang nekat, namun mungkin mereka melihat dari sudut pandang yang lain, yaitu skalabilitas.

Mungkin mereka melihat ada potensi lain yang bisa dikembangkan dari Bukalapak, yang tentunya investor konservatif tidak bisa melihatnya.

Jadi..

Sebetulnya perusahaan yang belum untung tersebut bukan artinya tidak mementingkan profit, melainkan mereka berpikir lebih kedepan.

Para pendiri StartUp tersebut lebih berorientasi pada bagaimana memperbesar perusahaan ini nantinya.

Sebuah pola pikir jangka panjang, long-term strategy, instead of short-term strategy yang banyak mengambil keuntungan dalam satu produk terjual.

Dengan begitu, investor akan tertarik dan tentunya dengan pengelolaan keuangan dan eksekusi yang baik, StartUp tersebut akan menjadi lebih besar dan baru kemudian mendapatkan keuntungan dengan model bisnis dan revenue stream yang sudah settle.

FAQ

Apakah startup selamanya harus “bakar uang” untuk promosi tanpa memikirkan keuntungan?

Tidak, mereka memiliki tolak ukurnya sendiri, kapan sekiranya saatnya merubah model bisnisnya dari akuisisi pelanggan ke mempertahankan retensi order pelanggan atau bahkan meningkatn order value pelanggan.

Pada tahun ke berapa biasanya StartUp bisa keuntungan?

Lagi, tergantung pada model bisnisnya.

Model bisnis Amazon Web Service (AWS) mungkin lebih cepat menghasilkan pendapatan dibandingkan dengan eCommerce amazon itu sendiri.

Hal tersebut bisa saja terjadi karena mungkin AWS lebih high margin dan zero distribution dibandingkan dengan menjual produk tangible (goods) ke pelanggan dari gudang ke rumah mereka.

Apakah semua startup harus melakukan ini?

Tidak juga, Anda bisa memulai perusahaan rintisan Anda sendiri dan menentukan keuntungan dalam jangka waktu tertentu.

Misal tahun pertama, atau 3 bulan pertama harus balik modal (Breakeven) maka di tahun kedua atau bulan ke 4 sudah bisa mendapatkan keuntungan.

Semoga bermanfaat..

--

--

--

Profesional Copywriter | Digital Marketing | eCommerce & Caramel Latte Enthusiast | I write everything here : https://willymy.name/

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Willy Pujo Hidayat

Willy Pujo Hidayat

Profesional Copywriter | Digital Marketing | eCommerce & Caramel Latte Enthusiast | I write everything here : https://willymy.name/

More from Medium

Qualification Games: A Glimpse Of PQLs

Few Takeaways from my Master thesis (still in progress) — Chapter 1

Super-connectors Run The World

Successful Angel Investment?